Guru dalam tradisi Jawa merupakan akronim dari "digugu lan ditiru" (orang yang dipercaya dan diikuti), bukan hanya bertanggung jawab mengajar mata pelajaran yang menjadi tugasnya, melainkan lebih dari itu juga mendidik moral, etika, integritas, dan karakter peserta didiknya.
Pepatah mengatakan “Guru Kencing berdiri murid kencing berlari” mengandung makna seorang murid akan meniru apa yang dicontohkan oleh gurunya, bahkan pada hal yang tidak baik sekalipun juga akan ditirunya. Berangkat dari pepatah itu, jika seorang guru itu disiplin maka muridnya akan ikut disiplin, karna hakikatnya murid akan mencontoh apa yang dilakukan oleh gurunya.
Disiplin adalah kunci mencapai sebuah cita-cita, tanpa disiplin niscaya seseorang tidak akan mampu mencapai sebuah kesuksesan, dalam hal apapun bukan hanya pada satu aspek kehidupan.
KH. Moh Zuhri Zaini, BA Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Karanganyar Paiton dalam suatu kesempatan pernah menyampaikan “Mendidik anak kecil itu sebetulnya tidak perlu banyak bicara cukup memberikan contoh saja”. Maka tidak salah jika ada ungkapan bahwa anak kecil itu disebut dengan sipeniru ulung, artinya anak akan meniru apa yang ia lihat, tanpa berfikir yang ia tiru itu sesuatu yang baik atau buruk.
Ketika guru Disiplin maka peserta didik akan juga disiplin, begitu pula sebaliknya, jangan pernah berharap murid disiplin jika para guru belum disiplin.
Berdasarkan penelitian para pakar pendidikan, Disiplin guru merupakan salah satu faktor pendorong peningkatan mutu pendidikan, oleh karena itu untuk meningkatkan mutu pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan, maka salah satu hal yang perlu dibenahi adalah tingkat disiplin guru.
Salah satu cara yang dilakukan oleh Madrasah Ibtidaiyah Az Zainiyah 3 Randumerak Paiton Probolinggo dalam rangka meningkatkan disiplin guru adalah dengan mengadakan kegiatan apel pagi khusus dewan guru yang dilaksanakan setiap hari.
Apel pagi dipimpin oleh Kepala Madrasah yaitu Ustad Muhyiddin, S.Pd yang dilaksanakan setiap pagi sesaat sebelum guru memulai pembelajaran di dalam kelas, yaitu jam dari 06.45 – 07.00 WIB.
Kepala Madrasah berharap dengan adanya Apel pagi ini diharapakan kedisiplinan dewan guru semakin baik, karna fungsi dari kegiatan ini adalah dapat mengetahui guru yang belum datang, guru yang seragamnya tidak sesuai tata tertib, guru yang datang terlambat atau juga guru yang tidak masuk pada hari itu sehingga guru piket siap menggantikan ketidakhadiran guru tersebut.
Dalam setiap Apel pagi Ust Muhyi sapaan akrabnya tidak bosan-bosannya memberikan motivasi kepada seluruh dewan guru, bahwa kegiatan mengajar adalah sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan. Beliau juga menghimbau untuk memberikan suasana nyaman di dalam kelas dengan berbagai variasi/model pembelajaran sehingga peserta didik tidak pernah merasa bosan dalam belajar.
Selain memberikan motivasi dalam proses mengajar, kepala Madrasah juga memberikan arahan kepada segenap dewan guru untuk selalu memberikan contoh yang baik kepada peserta didik baik dari cara kita bertutur kata maupun dalam berperilaku, beliau sedikit menjabarkan tentang filosofi jari menunjuk, “ketika kita menunjuk seseorang, ingatlah satu jari menunjuk kepada orang lain, empat jari lainnya menunjuk kepada diri kita sendiri” ujarnya pada kesempatan apel pagi.
Diakhir apel, pimpinan apel biasanya akan memberikan kesempatan kepada dewan guru yang ingin menyampaikan sesuatu baik itu informasi ataupun pendapat yang berkaitan dengan lembaga.
Kegiatan Apel pagi semacam ini cukup berhasil dalam upaya meningkatkan tingkat disiplin guru, terlihat dari beberapa guru yang biasa datang terlambat, lambat laun akhirnya bisa datang tepat waktu.